Temple Stay Theravada 3-5 April 26

 Inilah pertama kali saya ikut tinggal di wihara mengikuti Athasila tanggal 3-5 April 2026 di Padepokan Dhammadipa Arama Batu. 

Kita berangkat dari Surabaya pk. 6.00 pagi ke Vihara Dhammadipa Surabaya. Kita berangkat dari sana menuju Batu

Kita sampai di Batu pk 11.00 langsung ke tempat makan. Setelah itu kita diajak keliling Vihara yang luasnya sampai 6 HA. Bangunan utama ini ada Chatranya dan bangunan ini yang mirip di Myanmar. Hanya ukurannya yang lebih kecil. Di Myanmar ada bangunan Shwedagon yang bagian chatranya diisi banyak berlian dan batu mulia lain dengan maksud bila suatu hari bangunan ini hancur, bangunan ini masih bisa dibangun kembali dengan logam mulia itu. Luas bangunan yang di Shwedagon ini adalah 100x100x120m.

Di dalam Pagoda Shwedagon yang ada di Batu ini juga ada rumpang-rumpang Budha dengan berbagai bentuk tangan. Kita berdoa di depan rumpang Buddha ini sesuai dengan hari lahir kita. Kebetulan kalau saya Rumpang Buddha nya menunjukkan sikap tangan meditasi. Di dalam bangunan Pagoda Shwedagon ini juga ada di dinding bagaimana Sang Buddha melewati 8 rintangan, di bagian bawah ada air suci dan setelah itu kita naik dan disuguhi lukisan-lukisan tentang kehidupan Sang Buddha. Diantaranya saat di kehidupan lalu Sang Buddha pernah merelakan dirinya jadi jembatan untuk puluhan ribu orang menyebrang. Ada juga di kehidupan lalu Sang Buddha menjadi raja yang menyumbangkan miliknya termasuk anak istrinya. Anaknya ada yang menerima yang akhirnya menjadi anak rahula, dan yang menjadi Dewa Mara. Ada juga lukisan yang menceritakan tentang ratu Mahamaya bermimpi ada seekor gajah masuk dalam rahimnya dan pada akhirnya dia mengandung Sidharta, selama mengandung Ratu Mahamaya dapat melihat janinnya tanpa USG. dan banyak lagi lukisan lainnya.

Di bangunan ini juga ada perpustakaan tentang Buddha, yang menyimpan seri tipitaka lengkap dan buku-buku lain tentang Buddha bahkan banyak buku yang jarang ditemukan dan buku yang belum ada ebooknya

DI Vihara PDA ini juga ada rumpang Buddha Tidur, ada kuti-kuti yang terbuat dari kayu juga ada kuti baru untuk atthasilani dan para samanera. Kita juga dijelaskan bahwa Atthasilani dan Samanera itu belajar menjalankan Atthasila dan agama Buddha selama 4 tahun + 1 tahun pengabdian. Setelah itu Samanera boleh memilih untuk lepas jubah, atau lanjut menjadi Mahathera dan menjadi Bhante.

Setelah itu kita melakukan permohonan Atthasila pada Bhante yaitu permohonan untuk menjalankan Atthasila. Mungkin ada yang bingung apa itu Atthasila. Attha = 8, sila = kemoralan yaitu : 

AṬṬHASĪLA


Bhante membimbing kata-kata pāḷi yang diikuti oleh umat :


Ahaṁ bhante, tisaraṇena saha aṭṭhaṅga samannāgataṁ uposathasīlaṁ dhammaṁ yācāmi, anuggahaṁ katvā sīlaṁ detha, me bhante.
Bhante! Saya meminta tiga perlindungan bersama dhamma uposatha sila yang memiliki delapan kualitas. Bhante! Setelah berbelas kasihan pada saya, berikanlah sila.
Dutiyampi ahaṁ bhante, tisaraṇena saha pañcasīlaṁ dhammaṁ yācāmi, anuggahaṁ katvā sīlaṁ detha me bhante.
Untuk kedua kalinya, Bhante! Saya meminta tiga perlindungan bersama dhamma uposatha sila yang memiliki delapan kualitas. Bhante! Setelah berbelas kasihan pada saya, berikanlah sila.
Tatiyampi ahaṁ bhante, tisaraṇena saha pañcasīlaṁ dhammaṁ yācāmi, anuggahaṁ katvā sīlaṁ detha me bhante.
Untuk ketiga kalinya, Bhante! Saya meminta tiga perlindungan bersama dhamma uposatha sila yang memiliki delapan kualitas. Bhante! Setelah berbelas kasihan pada saya, berikanlah sila.


Bhante :
Yamahaṁ vadāmi taṁ vadetha (vadehi).
Apa yang saya ucapkan kalian (anda) ikuti.


Umat :
Āma, bhante.
Baik, Bhante.


Bhante membimbing kalimat pāḷi yang diikuti oleh umat :


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa.
Hormat kepada Beliau, Sang Bhagavā, Sang Arahanta, Buddha yang Tercerahkan Sempurna.
Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Saya pergi berlindung kepada Buddha.
Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Saya pergi berlindung kepada Dhamma.
Saṁghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Saya pergi berlindung kepada Saṁgha.
Dutiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Untuk kedua kalinya, saya pergi berlindung kepada Buddha.
Dutiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Untuk kedua kalinya, saya pergi berlindung kepada Dhamma.
Dutiyampi Saṁghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Untuk kedua kalinya, saya pergi berlindung kepada Saṁgha.
Tatiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Untuk ketiga kalinya, saya pergi berlindung kepada Buddha.
Tatiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Untuk ketiga kalinya, saya pergi berlindung kepada Dhamma.
Tatiyampi Saṁghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Untuk ketiga kalinya, saya pergi berlindung kepada Saṁgha.


Bhante :
Tisaraṇagamanaṁ paripuṇṇaṁ.
Pengambilan tiga perlindungan sudah sempurna.


Umat :
Āma, bhante.
Baik, bhante.


Bhante membimbing kalimat pāḷi yang diikuti oleh umat :


Pānāṭipātā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.
Saya mengambil latihan menghindari pembunuhan makhluk hidup.
Adinnadānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.
Saya mengambil latihan menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan.
Abrahmacariyā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.
Saya mengambil latihan menghindari kehidupan yang tidak suci.
Musāvādā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.
Saya mengambil latihan menghindari ucapan tidak benar.
Surā-meraya-majja-pamādaṭṭhāna veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.
Saya mengambil latihan menghindari minum-minuman bir, anggur, alkohol yang menyebabkan lemahnya kesadaran.
Vikālabhojanā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.
Saya mengambil latihan menghindari makan diwaktu yang salah.
Nacca-gīta-vādita-visūka-dassanā, mālāgandha-vilepana-dhāraṇamaṇḍana-vibhūsanaṭṭhānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.
Saya mengambil latihan menghindari menonton tarian-nyanyianmusik-hiburan, memakai hiasan-bunga-parfum-kosmetik-perhiasan.
Uccāsayana-mahāsayanā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi.
Saya mengambil latihan menghindari kursi dan ranjang yang tinggi dan mewah.


Idaṁ me puññaṁ āsavakkhayā’vahaṁ hotu.
Semoga dengan kebajikan saya ini tercapai penghancuran pengotor batin.
Idaṁ me sīlaṁ nibbānassa paccayo hotu.
Semoga dengan sila saya ini menjadi sebab tercapainya Nibbāna.


Bhante :
Tisaraṇena saha aṭṭhaṅga samannāgataṁ uposathasīlaṁ dhammaṁ sādhukaṁ katvā appamādena sampādetha.
Setelah sempurna dalam tiga perlindungan bersama dhamma uposatha sila yang memiliki delapan kualitas, selesaikan [semua tugas] dengan kewaspadaan.


Umat :
Āma, bhante. Sādhu! Sādhu! Sādhu!

Setelah itu kita menitipkan barang-barang kita yang tidak perlu pada panitia terutama HP dan peralatan elektronik lain, make up, hairdryer.

istirahat, mandi, dan kumpul lagi untuk mendengarkan Dhamma talk berupa latihan meditasi dipandu oleh Abhisarano Johan.

Cara untuk meditasi duduk.
Duduk tegak, jangan membungkuk nanti pundak sakit kaki jangan di letakkan menumpuk pada kaki yang lain nanti cepat kesemutan, mata terpejam. Perhatikan tubuh apa yang dirasakan dan biarkan relax. Rasakan seluruh wajah, biarkan lidah menempel ke langit-langit mulut bagian depan lidah jangan menempel di gigi. agar air liur tidak terlalu keluar dan mulut tertutup, dengan sedikit senyuman dari jiwa. Mata terpejam jangan ada kerutan di dahi. Rasakan nafas apa yang paling terasa apakah rongga hidung, cuping hidung ataupun atasnya bibir. Perhatikan perut saat nafas masuk perut mengembang, saat nafas keluar perut kempes. hitung nafas nafas masuk-keluar dihitung 1, nafas masuk-keluar 2, lanjutkan hingga 8 hitungan dan ulangi hingga 2x. Setalah itu boleh dilanjutkan mengamati nafas atau yang lain

Setelah itu meditasi berdiri yaitu tangan diletakkan di punggung bawah atau terlipat di dada, atau di kantong dan tidak gerak-gerak lagi, berdiri tegak. Amati dan rasakan seluruh tubuh (bodyscan 2x), amati nafas masuk dan keluar 3, amati kaki yang menginjak lantai 4 kali.

Setelah itu meditasi berjalan. Berjalan kiri-kanan-kiri kanan dan saat kaki kiri masih terangkat kaki kanan jangan mulai melangkah sampai kaki kiri menginjak tanah yang seluruhnya. Setelah itu amati kaki yang mengangkat dan kaki yang diletakkan. Setelah itu belajar berjalan mengangkat kaki sepenuhnya jadi bukan bagian jari menghadap kebawah usahakan kaki lurus amati kaki melangkah, kaki terdorong dan kaki diletakkan.

Lakukan meditasi duduk 30 menit. Meditasi berdiri kombine dengan meditasi berjalan 30 menit
Perasaan yang mungkin ada adalah bila ada persaaan tidak menyenangkan akan menjadi benci, bila ada perasaan yang menyenangkan kita akan takut. Bila kekurangan energi kita akan malas, bila kelebihan energi akan jadi gelisah, atau mungkin ada perasaan yang ragu kalau kita banyak pikiran (mind full). Saat muncul perasaan itu sadari aja agar kita menjadi mindfull di titik tengah. Karena bila kita ikuti hasilnya juga akan jadi mind full (pukiran penuh).

Kita juga diajarkan bernamaskara yang benar. Perempuan telapak kakinya point, jari-jarinya tidak dijejakkan. turunkan perut ke paha hingga dahi menempel ke lantai, jadi punggung kaki, lutut, siku, telapak tangan, dahi menempel ke lantai, pantat kalau bisa menempel ke kaki.

Setelah itu kita chanting membacakan Metta. Pelimpahan kasih sayang untuk diri kita orang sekitar dan dunia ini.

Paginya di kamar kita ada Atthasilani yang membunyikan lonceng untuk membangunkan kita pk 3.30. Kita cuci muka kumpul di Bhavana sala (hall) pk 4.00 mulai bermeditasi sendiri tanpa dipandu. Selama 1 jam
Setelah itu makan pagi. Ada 2 orang peserta cewe & cowo untuk menyajikan makanan untuk Bhante. Untuk yang cewe makanannya diletakkan di kain yang cowo langsung dioper ke tangan Bhante. Karena Bhante tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis.

Sebelum makan kita ada pelimpahan jasa. Yaitu melimpahkan jasa kebajikan kita untuk orang yang sudah meninggal. Kita menuangkan air dari teko ke gelas kosong. Teko itu ibaratnya adalah kita dan gelas kosong itu adalah orang yang sudah meninggal, air adalah jasa kebajikan. Setelah proses pembacaan pelimpahan jasa. Kita menuangkan air ke tanaman. Setelah itu, membacakan perenungan sebelum makan bahwa kita makan bukan untuk bersenang-senang sampai kekenyangan, tapi untuk melanjutkan hidup. Kita makan di dekat kuti (kamar) cewe di ruang makan Atthasilani

Setelah makan kita free time bisa mandi. Setelah itu kita kembali ke bhavana sila untuk bermeditasi selama 1 jam dan bermeditasi lagi selama kurang lebih 1 jam. Setelah itu Dhamma talk

Dhamma Talk kali ini tentang budaya orang Timur dan orang Barat ya sebenarnya ini adalah Yin dan Yang. 
Orang Timur cenderung Yin nya kuat, energi feminim, kalem, nerima saja, menganggap kita semua akan mati, Tuhan adalah segala-galanya, berbicara tentang penderitaan, gotong-royong, akhirnya di Timur kaya kebudayaan masa lalu tapi tidak maju, moralnya bagus
Orang Barat cenderung Yang yang kuat, energi maskulin, mengejar, bertanya why, berusaha hidup selamanya, Tuhan di olok-olok, suka berbicara kebahagiaan, suka berusaha sendiri, mandiri, individualis, akhirnya di Barat teknologi sangat maju tapi moralnya hancur.
Dalam Buddhisme kita belajar mencari jalan tengah saja ingin maju tapi tetap bermoral (minim menjalankan Pancasila), Berbicara penderitaan tapi juga mencari cara hilangnya penderitaan agar yang tersisa kebahagiaan sejati, 

Setelah itu kita makan siang, dan praktek meditasi lagi selama 1 jam. Baru sesi Dhamma Talk lagi

Sesi DhammaTalk kali ini kita belajar meditasi lagi. Kalau yang lalu belajar meditasinya apa yang bukan objek meditasi kita abaikan. Kalau yang kali ini apa yang dominan di pikiran kita sadari dan jadikan objek meditasi yang ke2 misalnya saat meditasi ada rasa gatal yang dominan kita sadari gatal gatal gatal lalu balik lagi ke nafas. Ini jauh lebih ringan daripada yang tadi. 

Setelah itu kita bersih-bersih, tapi ternyata wilayah kita sudah dibersihkan Atthasilani jadi kita hanya kebagian membersihkan kamar kita masing-masing hehehe.... tugas yang ringan. Setelah itu mandi 

Kita sesi meditasi lagi selama 1 jams setelahnya tentang DhammaTalk.

Dhamma Talk kali ini adalah tentang keyakinan : Keyakinan itu awalnya karena sesuatu yang disukai pancaindera kita misalnya melihat vihara bagus, bau dupa enak, rasa makanan enak. Keyakinan ini mudah untuk menarik orang tapi orang yang tertarik mudah juga untuk pergi.
Keyakinan selanjutnya sudah terlepas dari indera tapi sudah mulai berlogika. 
Keyakinan selanjutnya keyakinan yang meski sesuatu tidak masuk akal dan jelek dia tetap yakin, karena sudah terdoktrin dan melekat di jiwanya. Seperti kita saat kecil diberitahu warna langit itu biru. Kita yakin tanpa mempertanyakan dan melogikanya lagi.
Kita juga diskusi tentang agama lain. Yang ternyata peserta temple stay ini tidak hanya orang Buddhist saja. 

Setelah selesai Dhamma Talk kita chanting menyuarakan Metta. dan tidur

Besoknya kita dibangunkan lonceng pelan para Atthasilani, kita bermeditasi selama 1 jam. Lalu pelimpahan jasa, makan pagi, istirahat mandi dan beres-beres. Meditasi lagi 1 jam dan diskusi tentang Kesan pesan selama mengikuti Temple Stay, memberi dana makan pada Bhante,

Permohonan Pancasila. Permohonan Pancasila ini penting karena bila tidak, kita harus menjalankan Atthasila terus hingga kita melakukan permohonan Pancasila. Isi dari Permohonan Pancasila adalah 

Umat:
Okāsa ahaṁ bhante,
tisaraṇena saddhiṁ pañcasīlaṁ dhammaṁ yācāmi,
anugahaṁ katvā, silaṁ detha me bhante.

Dutiyampi okāsa ahaṁ bhante,
tisaraṇena saddhiṁ pañcasīlaṁ dhammaṁ yācāmi,
anugahaṁ katvā silaṁ detha me bhante.

Tatiyampi okāsa ahaṁ bhante,
tisaraṇena saddhiṁ pañcasīlaṁ dhammaṁ yācāmi,
anugahaṁ katvā silaṁ detha me bhante.


Bhikkhu:
Yamahaṁ vadāmi taṁ vadetha.


Umat:
Āma, Bhante.


Bhikkhu:
(Mengucapkan Vandanā 1X, umat mengikuti sebanyak 3X)
Namo Sanghyang Ādi Buddhāya
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Namo Sabbe Bodhisattāya-Mahasattāya

Bhikkhu:
(Mengucapkan Tisaraṇa, umat mengikuti tiap baris)
Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi

Dutiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Dutiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Dutiyampi Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi

Tatiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Tatiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Tatiyampi Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi


Bhikkhu:
Tisaraṇa gamanaṁ paripuṇṇaṁ.

Umat:
Āma, Bhante.

Bhikkhu:
(Mengucapkan Pañcasīla, umat mengikuti)
Pāṇātipātā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi

Adinnādānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi

Kāmesu micchācārā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi

Musāvādā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi

Surāmeraya majjapamādaṭṭhānā veramaṇī
sikkhāpadaṁ samādiyāmi


Bhikkhu:
Imāni pañcasikkhāpadāni.
Sīlena sugatiṁ yanti.
Sīlena bhogasampadā.
Sīlena nibbutiṁ yanti.
Tasmā sīlaṁ visodhaye.


Umat:
Āma, Bhante.
Sādhu, Sādhu, Sādhu.

Umat:
Perkenankanlah, Bhante,
Saya memohon tuntunan Tisaraṇa dan Pañcasīla,
Anugerahkanlah sila (latihan moralitas) kepada saya,
Bhante.

Untuk kedua kalinya, perkenankanlah, Bhante,
Saya memohon tuntunan Tisaraṇa dan Pañcasīla,
Anugerahkanlah sila (latihan moralitas) kepada saya, Bhante.

Untuk ketiga kalinya, perkenankanlah, Bhante,
Saya memohon tuntunan Tisaraṇa dan Pañcasīla,
Anugerahkanlah sila (latihan moralitas) kepada saya,
Bhante.

Bhikkhu:
Ikutilah yang saya ucapkan

Umat:
Ya Bhante.

Bhikkhu:
(Mengucapkan Vandanā 1X, umat mengikuti sebanyak 3X)
Terpujilah Sanghyang Ādi Buddha, Tuhan Yang Maha Esa
Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Maha Suci yang telah
mencapai Penerangan Sempurna
Terpujilah Para Bodhisatta – Mahasatta

Bhikkhu:
(Mengucapkan Tisaraṇa, umat mengikuti tiap baris)
Aku berlindung kepada Buddha
Aku berlindung kepada Dhamma
Aku berlindung kepada Saṅgha

Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha
Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma
Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Saṅgha

Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha
Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma
Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Saṅgha

Bhikkhu:
Tiga Perlindungan (Tisaraṇa) telah lengkap diberikan.

Umat:
Ya Bhante.

Bhikkhu:
(Mengucapkan Pañcasīla, umat mengikuti)
Aku bertekad menghindari pembunuhan makhluk hidup.
Aku bertekad menghindari mengambil sesuatu yang tidak
diberikan.
Aku bertekad menghindari perbuatan asusila.
Aku bertekad menghindari ucapan yang tidak benar.
Aku bertekad menghindari mengonsumsi zat yang dapat
melemahkan kesadaran2

Bhikkhu:
Inilah lima latihan sila
Dengan melaksanakan sila, membawa seseorang menuju
berbahagia
Dengan melaksanakan sila, membawa seseorang memperoleh
kekayaan (materi dan dhamma)
Dengan melaksanakan sila, membawa seseorang merealisasi
Nibbāna
Oleh karena itu, laksanakanlah sila dengan sempurna.

Umat:
Ya Bhante.
Semoga demikian adanya, Semoga demikian adanya, Semoga
demikian adanya.


Setelah itu kita foto bersama, pelimpahan jasa, pembagian harta, makan 


Kita tour Sekolah Tinggi Agama Buddha yang ada di sebelah wihara, ada tempat untuk podcastnya juga lho


Sebelum pulang kita merayakan ultah YM. Bhante Jayamedho 

Comments

Popular posts from this blog

Happy New Year 2019

Penipuan : Cari Jodoh

Hongkong - Macau