Jember - Banyuwangi



Liburan kali ini saya sekeluarga mengunjungi Sekitaran Kota yang konon merupakan inspirasi dari cerita misteri KKN di Desa Penari ya Banyuwangi.


Perjalanan dimulai tanggal 31 Desember 2019 pk 4.30 menuju ke


Pantai Papuma

Pantai Papuma di Desa Suberojo, Ambulu, Jember. Papuma itu singkatan dari Pasir Putih Malika (Molak-Malik = bergulung-gulung ombaknya). Malikan bisa juga berarti batu datar mirip kerang raksasa yang bernama batu Malikan tempat Raden Mursudo dan Joko Samudera memancing dan tidak sengaja Marsudo memancing Raja Mina (ikan ajaib) yang kemudian dilepaskan. Dan akhirnya Marsudo dan Joko Samudera memancing ular raksasa yang kemudian dibelah menjadi 3 dengan cemeti pemberian Raja Mina.

Pantai ini banyak kapal-kapal yang ditawarkan untuk menuju ke Pantai Watu Ulo dan Tanjung Kodok. Namun kita nggak naik perahu ini.

Di tepi Pantai ini ada Klenteng dan di bebatuan dekat Klenteng ada sembahyangan untuk Nyi Roro Kidul. Kalau Sembahyang di Klenteng mampirlah juga untuk sembahyang di Nyi Roro Kidul. Di Gua tempat pemujaan Nyi Roro Kidul ada tebing yang diikat tali, kita tidak boleh melebihi tali itu. Pantai ini terdapat gugusan karang yang berderet yang mempunyai nama Dhampar Kencana, Genteng/Kura-kura, Kodok, Kresna, Narada, dan Kajang. Ada juga yang menyebutnya Batara Guru, Kresna, Narada, Nusa Barong, dan Kajang. Ada karang yang bernama Sendiri dan dihindari penduduk setempat karena merupakan tempat tinggal sekumpulan ular berbisa.

Di satu bagian terdapat ceruk kecil yang oleh penduduk dinamakan gua lawa. Saat air sedang surit wisatawan bisa melihat kelelawar keluar dari gua ini. Mitosnya Gua ini tempat Dewi Sri Wulan, salah satu Putri penguasa Laut Selatan dan Kyai Mataram bersemedi.

tiket masuk ke Papuma ini Rp 20.000/orang dan Rp. 5.000 untuk mobil namun di dalam ditarik parkir lagi sukarela

Di pantai terdapat warung ikan bakar Pak Yit ini yang ikannya paling segar


AntaBoga Beji

Perjalanan kita lanjutkan ke Glenmore Antaboga Beji. Terletak di lereng Gunung Raung di tengah hutan pinus yang indah di Kawasan Kesatuan Pemangku Hutan Glenmore, Dusun Gunungsari, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Tempat ini mempunyai toleransi beragama yang sangat tinggi terbukti terdapat altar simbol peribadatan agama di Indonesia yaitu Dewi Kwan Im sebagai simbol peribadatan Buddha dan Konghuchu, Altar Yesus Kristus, Bunda Maria dan Bunda Veda sebagai simbol peribadatan Katolik/Kristen, ada mushola, dan Pohon Ananta Boga yang sebagai inti dari tempat ini sebagai lambang peribadatan Hindu.

Awalnya tempat ini hanya ada Pohon besar yang bernama Ananta Boga tempat beribadah Agama Hindu, namun semenjak dibangun tempat beribadah agama lain namanya diganti jadi AntaBoga Beji. Ananta Boga sendiri bisa diartikan sebagai Ular Besar. Didalam pohon ini juga ditinggali ular besar yang keramat namun kata penjaga disana tidak berbahaya.

Selain itu juga ada altar persembahan Dewi Segoro (Nyi Roro Kidul), Lembu Nandi, dan Dewa Siwa dan ada kolam sumber air yang ditengah-tengahnya terdapat altar Ganesha. Air dari sumber air ini segar dingin enak pokoknya. Boleh untuk mandi namun tanpa detergen (sabun, sampo, pasta gigi).

Tiket masuk ke Antaboga ini sukarela

Altaar Yesus di Antaboga Beji

Altar Dewi Kwan Im


Pohon Ananta Boga


Setelah itu kita menuju ke hotel untuk membersihkan diri dan istirahat. Karena hari sudah mulai gelap mungkin karena mendung jadi pk.4.00 dah gelap. Kami ke Hotel Mahkota Genteng (IDR 1.011.789 untuk 2 kamar 2 malam by tiket dot kom). Hotelnya lumayan bersih namun banyak laron mungkin musim hujan kali ya. Di tiap kamar ada lukisan yang mengandung kata-kata inspiratif seperti di kamar saya "Think Positive and Positive thing will happens"


Pulau Merah

Pulau Merah ini terletak di Dusun Pancer Sumber Agung, Pesanggrahan. Harga tiket masuk Rp. 10.000 per orang dan Rp. 5.000/ mobil

Ditengah laut terdapat bukit yang bila air pasang terlihat seperti pulau di tengah laut yang berwarna merah, Warna merah sendiri karena tanahnya berwarna merah dan ada yang bilang ada sekumpulan kelelawar berwarna merah yang bermukim di pulau tersebut. Selain itu di tempat ini ada Pura Tawang Alun setinggi 13 meter yang dibanugn tahun 1990 yang tidak hancur ketika diterjang tsunami. Di Pulau Merah ini konon katanya terdapat paku bumi alami dan tambang emas lho.


Setelah itu kami menuju Taman Nasional Alas Purwo


Taman Nasional Alas Purwo (TNAP)

Perjalanan kita menembus TNAP disuguhi pemandangan Hutan Jati yg cukup luas dan disertai hujan. Meski banyak cerita misteri di TNAP ini tapi sepertinya tidak angker. Namun hewan disini masih lengkap meski tidak melihat hewan sejenis harimau, singa sich mungkin karena saat ini hujan lebat. Saya melihat Gorila, tupai, ular dan kawanan monyet.

Alas berarti Hutan dan Purwo sendiri berarti kawitan atau pertama dan Alas Purwo berarti Hutan Pertama di Banyuwangi. Setiap tanggal 1 suro masyarakat Banyuwangi berbondong-bondong untuk bersemedi di dalam hutan ini karena di TNAP dipercaya sebagai Kerajaan Jin. Dalam sejarah Alas Purwo adalah pelarian Majapahit dari penyebaran Islam.

Di dalam TNAP terdapat 2 pura yaitu Giri Salaka dan Kawitan. Pura Kawitan ini merupakan situs peninggalan Majapahit dan sejak tahun 1968 dijadikan tempat peribadatan. meskipun terlihat lebih sederhana namun masyarakat percaya terdapat gapura-gapura gaib bila meditasi (terutama cinta kasih = meditasi tanpa kebencian terhadap siapapun) dan puasa selama 3 hari 3 malam maka orang tersebut bisa melihat gapura tersebut lengkap dengan prajurit yang berlalu lalang. Namun karena Pura ini terlalu banyak dikunjungi wisatawan yang ingin melalukan ritual akhirnya dibangunlah Pura Giri Salaka yang digunakan untuk upacara keagamaan Umat Hindu Pager Wesi setiap 210 hari sekali.

Kita mengunjungi Pura Giri Salaka tapi tidak dibuka untuk umum, hanya yang ingin bersembahyang saja. Akhirnya kita ke Pura Kawitan. Kita diperciki air oleh pemangku yang ada disana lalu bersembahyang dengan hio lalu diperciki air 3x di kepala 3x untuk minum dan 1x untuk membasuh muka. Setelah itu diberi beras diambil 7 untuk ditempel di dahi 3 untuk dimakan sisanya di tabur di atas kepala, lalu diberi bunga untuk disematkan di telinga.

Masuk Alas Purwo ini bayar perorang Rp.7.500 dan mobil Rp. 10.000

Pura Giri Salaka


Situs Pura Kawitan


Sebenarnya kita mau lihat banteng di alas ini juga atau ke G-Land tapi berhubung hujan sangat lebat akhirnya kita memutuskan untuk balik ke Hotel berhubung masih sore dan kolam renang nya masih buka (buka pk. 6.00 - 17.00) saya renang dulu saja di Hotel.


Keesokan harinya saya mengunjungi Klenteng Rogojampi dan Banyuwangi, setelah itu ke Desa Wisata Osing dan makan Sego tempong Mbok Nah.


Klenteng Tik Liong Tian å¾·é¾™æ®¿ Tik berarti kebajikan Liong = naga Tian = Istana (Istana Naga Bajik) berada di Jalan Raya no 69 dengan dewa utama Kongco Tan Hu Cin Jin. Klenteng ini sudah dibangun sejak tahun 1915 oleh pedagang bernama Lin Jin Feng (Liem Kim Hong) dan dibuka untuk umum tahun 1958 setelah Rumah dan tempat peribadatan ini diserahkan ke Perhimpunan Warga Tionghoa. Klenteng ini diresmikan oleh Ketua T.I.T.D se- Indonesia tahun 2012. Klenteng ini dibangun karena bermimpin Chen Fu Zhen Ren berada di pelabuhan Watudodol dan Lim juga menemukan 2 arca yang diduga rumpang Chen Fu Zhen Ren di dekat Watu Dodol. Awalnya 2 rumpang tersebut di buatkan altar kecil di dalam rumah Liem setelah punya cukup uang Liem membangun kuil kecil dibelakang rumahnya


Klenteng Banyuwangi Hoo Tong Bio Di Jalan Ikan Gurame no 54. dengan Dewa Utama Chen Fu Zhen Ren. Merupakan Klenteng induk yang dari 9 Klenteng dengan Dewa utama Chen Fu Zhen Ren yang tersebar di Jawa dan Bali. Kuil ini bisa dibilang tertua hingga tak ada catatan kapan berdirinya hanya ada catatan pada kayu tahun 1784. Klenteng ini terdapat pagoda yang boleh dinaiki sampai lantai 2.

Klenteng Hoo Tong Bio


Pagoda di Klenteng Hoo Tong Bio

Nasi tempong itu kalau menurut saya seperti lalapan jadi nasi + sayur rebus + lauk (telur gorengnya beda bisa crispy gt) + sambal


Desa Wisata Osing

Desa Wisata ini menampilkan kehidupan sehari-hari suku asli Banyuwangi yaitu suku Osing. Seperti Rumah adat mereka, cara berpakaian mereka, dll

Rumah adat di Desa Wisata Osing



Sekian Liburan Tahun baru saya....

Happy New Year 2020 all.......

Semoga di tahun yang baru ini bisa lebih banyak hal baik yang datang, lebih banyak jalan-jalan dan lebih banyak hal baru yang kucoba 


Banyuwangi : Alas Purwo, Pulau Merah

Menjangan Tabuhan 


Back

Comments

Popular posts from this blog

Happy New Year 2019

Penipuan : Cari Jodoh

Hongkong - Macau